Tentang Kesedihan

Akhir pekan yang lalu, teman saya Lea menginap di apartemen saya. Dia membawa sebotol Absolut Vodka, yang dibelinya di Thailand, dan hendak menikmatinya bersama saya. Setelah ngobrol beberapa saat, kami membuka minuman itu dan meminumnya sambil nonton film. Judulnya Tokyo! Sebuah antologi film pendek berlatar kota macet itu, garapan tiga sutradara berbeda—semuanya non-Jepang.

Pada film pendek pertama, Interior Design, yang disutradarai dan ditulis oleh Michel Gondry, Lea sedih. Karakter utamanya mengalami nasib yang buruk. Dia menginap di apartemen temannya, sedang mencari apartemen untuk dirinya sendiri tapi tidak dapat-dapat, lalu mobilnya ditahan polisi karena parkir sembarangan, harus membayar denda berjumlah besar sedangkan dia tidak punya duit, dan seterusnya. Lea bertanya apa saya sedih. Saya jawab tidak.

Kemudian saya berpikir apa hal-hal yang bisa—dan biasanya—membuat saya sedih. Saya ingat, pada Piala Dunia kemarin, saya sedih melihat wawancara David Luiz setelah Brazil dibantai Jerman dengan skor 1-7. Dia bilang, “I just want my people to smile. Brazilian people suffer so much.” Saya sedih melihat seorang pemuda yang peduli dengan kepentingan begitu banyak orang dan tak berhasil memenuhi harapan mereka.

Saya menangis ketika menonton adegan pencambukan seorang budak dalam film 12 Years a Slave. Saya tidak sedih karena budak itu bernasib sial. Saya sedih kenapa perbudakan (pernah) ada di dunia, kenapa manusia bisa begitu kejam kepada sesamanya.

Nasib buruk dan kesulitan hidup dalam konteks perorangan tidak pernah membuat saya sedih (kecuali jika ekstrem). Sebab kita semua, sampai tahap yang berbeda-beda, mengalaminya. Kondisi manusia secara umum yang buruklah yang membuat saya merasa begitu. Ketika kita semakin tak peduli, semakin dingin dan berjarak antara satu sama lain, ketika manusia berhenti berkembang dan tertekan sebagai individu karena takluk kepada anggapan masyarakat, ketika tiada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sehingga lahir berbagai bentuk ketidakadilan dan kedangkalan berpikir, semua itu mengetuk pintu hati saya.

Tentu saja tidak baik jika semua orang seperti saya. Dunia akan lebih hangat jika kita dapat bersimpati dengan penderitaan sekecil apa pun. Dunia akan lebih ramah jika kita mau menyediakan telinga bagi keluh kesah orang lain dengan sabar dan tidak bergosip kemudian. Dunia akan lebih baik jika kita peduli dan mau melayani dengan tulus. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang seperti Lea mungkin akan lebih berguna daripada saya.

 

Tokyo! film yang bagus. Bukan untuk semua orang, tapi jika kamu suka Eternal Sunshine of the Spotless Mind, kamu akan menyukainya. Favorit saya adalah film pendek pertama, sementara Lea menyukai yang pertama dan ketiga dengan kadar yang sama.

Advertisements

9 thoughts on “Tentang Kesedihan

  1. jadi, ini sebenernya tentang tingkat kesedihan yg bisa menghajar tempurung hatimu, tentang film tokyo atau ttg Lea sih?.. bisaan aja yg nulis, saya mendadak jd sedih tak bisa nulis serapi ini.. #lah

  2. Dan orang-orang seperti elo berguna untuk orang-orang seperti gue yang kebanyakan mikirin hal gak penting :)) Lagian lo gak sadar, ya? Elo juga punya andil dalam membentuk gue jadi kayak sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s