(Anti) Struktur

Semasih main musik dulu, dalam perjalanan Bandung-Jakarta suatu malam, saya ngobrol-ngobrol dengan manajer saya. Saya tak ingat apa topik yang sedang kami bahas, tapi dia bilang begini: “Saat ngirim CV, gue cantumin juga kegagalan-kegagalan gue. Bagi gue, definisi ‘sukses’ dan ‘gagal’ itu sama aja.”

Saya masih 21 tahun waktu itu, sehingga tak mengerti apa maksudnya.

Tapi kini saya mengerti.

Sukses dan gagal memang sama saja. Dalam pekerjaan, jika kita memberikan yang terbaik setiap hari, tak peduli apa yang orang lain bilang, kita sukses. Dalam percintaan, selama kita melakukan semuanya dengan benar, tak peduli apa yang kemudian terjadi (atau tidak terjadi), kita sukses. Dalam hubungan antarmanusia secara umum, selama kita memiliki mentalitas memberi dan melayani, tak peduli bagaimana interpretasi orang lain, kita sukses.

Lagi pula, sukses dan gagal (menurut pandangan umum) hanya berlaku apabila ada struktur. Ketika di atas, kita dibilang sukses. Ketika di bawah, kita dibilang gagal. Jika kita tak peduli atau tak melibatkan diri di dalam struktur buatan masyarakat itu, sukses dan gagal tidak relevan lagi.

Hidup ini proyek pribadi. Jika struktur harus ada, kita ciptakan saja sendiri.

Advertisements

4 thoughts on “(Anti) Struktur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s