Maria Leonietha: Tentang Kepingan yang Tidak Cocok dan Menjadi Perempuan

Maria Leonietha, yang akrab disapa Lea, adalah salah satu orang yang paling dekat dengan saya. Pertemuan pertama kami terjadi empat tahun yang lalu di sebuah kafe sederhana di kawasan Tebet. Sejak itu, kami rutin bertemu. Ketika saya sedang di Jakarta, kami nongkrong paling sedikit seminggu sekali. Kemarin, saat saya berada di Jogja, dia mengunjungi saya dua kali. 

Dengannya saya bisa membicarakan segalanya, mulai dari hal-hal yang paling tidak penting sampai yang paling personal. Bisa dibilang, dia tahu rahasia-rahasia saya. Dia ada saat saya masih mendekam di kamar tiga tahun, struggling untuk menjadi penulis yang baik dan yang karyanya layak dibaca publik. Saya pun ada pada masa-masa bahagia dan sulitnya, ketika segala sesuatu baik-baik saja untuknya dan ketika dunianya dijungkirbalikkan oleh berbagai hal. 

Maka, bukan sesuatu yang mengejutkan jika dia adalah orang pertama yang saya wawancara untuk Interview Orang-orang Seindah Senja. Di dunia ini ada banyak orang baik, unik, dan hebat seperti Lea, yang tidak disorot karena kita lebih tertarik kepada orang-orang yang berkilau sampai-sampai kita lupa kita juga memiliki kilau yang sama. Dalam wawancara ini, saya ingin kamu melihat kilau itu, baik yang berasal dari dalam diri Lea maupun dari dalam dirimu sendiri. 

Elia: Kamu adalah perempuan Jakarta. Sejak kecil hingga dewasa, kamu tinggal di Jakarta, berkembang di Jakarta, dan cari makan di Jakarta. Di kota seperti ini, yang adalah representasi dunia modern yang bising dan penuh arus, bagaimana kamu melihat dirimu? Apa hal-hal yang menjadikanmu dirimu, menjadikan Lea Lea? 

Lea: To be honest, gue melihat diri gue sendiri di kota ini kayak kepingan yang nggak cocok. Nggak pas. Mo dipaksain kayak gimana juga, nggak akan bisa masuk. Gue melihat diri gue sendiri sebagai anomali yang berusaha berkamuflase agar sama seperti semua orang. Tapi kalau ditanya, apa hal-hal yang menjadikan gue adalah gue,… gue bingung, sih. Mungkin keras kepalanya gue, kemampuan gue untuk ngotot dan nggak segampang itu nyerah walaupun sebenarnya gue udah putus asa dan mentok, kesombongan gue yang meyakini gue bisa melakukan semuanya sendirian padahal nggak. Kemudian drama-nya gue; gue yang selalu mendramatisasi dan meromantisasi banyak hal, bahkan yang paling sepele sekalipun. Dan mungkin naifnya gue. Yang bikin gue jadi kepingan yang nggak pas di kota seperti ini. Ini adalah hal-hal yang menjadikan gue adalah Lea.

Elia: Apa kamu orang yang mengutamakan individualitas (dalam arti kamu hidup dengan caramu, memegang teguh prinsip yang kamu pikir benar dan percayai) atau kamu tak masalah berkompromi? Jika yang pertama, apa prinsip utamamu dan kenapa kamu ngotot memeluknya? Jika yang kedua, hal-hal seperti apa yang dapat membuatmu mengesampingkan individualitasmu dan apa alasannya? 

Lea: Menurut sudut pandang gue sendiri, sebenarnya gue orang yang berkompromi. Gue percaya kalau dunia ini nggak berjalan seperti yang kita mau, dan kadang kita harus ngalah. Tapi ada beberapa hal yang prinsipil buat gue, dan untuk hal-hal yang prinsip itu, gue bakal teguh. Nggak ada satupun yang bisa bikin gue mengubah prinsip gue kecuali ada seseorang yang bisa buktiin ke gue, kalau apa yang gue pegang ini pointless. Itu secara nggak langsung menjawab pertanyaan ketiga.

Sebagian prinsip yang gue pegang teguh adalah jangan jahat, jangan serakah, dan jangan ngelakuin hal yang bisa bikin lo nyesel permanen. Kenapa gue ngotot memeluknya? Simpel, karena gue nggak pengen hidup nggak bahagia. Saat lo jahat, serakah, dan ngerusak hidup lo sendiri, lo nggak bakal bahagia.

Elia: Saya sudah mengenalmu bertahun-tahun. Kamu adalah orang yang seru dan ceria. Tapi sepanjang tahun ini, karena dalam hidup shit happens, kamu jadi negatif, cenderung skeptis, seolah tiada terang tersisa di dunia ini. Saya yakin ini hanya sebuah fase, namun jujur saja, baru sepanjang tahun ini saya melihatmu sebagai perempuan muda yang beranjak matang, yang bergerak menuju kesejatian diri, sementara sebelumnya hanya perempuan muda. 

Pertanyaan saya, bagaimana kamu menyikapi ketidakberuntungan dalam hidup? Apa dampaknya terhadap dirimu, caramu memandang dunia, dan proses panjang yang sedang kamu lalui untuk mendefinisikan diri? 
Lea: Oh, jadi sebelumnya gue cuma perempuan muda? You broke my heart, El. Haha…Sebenarnya banyak ketidakberuntungan dalam hidup gue, tapi gue dari dulu emang bukan tipe yang gampang nyerah. Gue nunggu, dan jalan terus, sampai gue bisa memperbaiki dengan tangan gue sendiri, atau belajar memaafkan, belajar hidup dengan ketidakberuntungan gue.

Tapi emang current event ini lah yang bener-bener bikin gue berantakan, gue nggak pernah seberantakan ini. Dampaknya? Jelas, gue jadi skeptis, gue jadi lebih rendah diri, lebih nggak percaya diri, gue melihat dunia ini nggak adil. Sekali lagi gue ngerasa kayak kepingan yang nggak pas. Kayaknya semua hal yang gue percaya selama ini ternyata salah. Cuma hasil bentukkan novel roman, imajinasi hasil didikan kitab suci dan agama, pokoknya, semua pandangan ideal yang gue pernah punya itu cuma utopis.

Tapi di saat yang sama, gue jadi lebih keras, lebih kuat, sekaligus lebih… apa ya, lebih belajar ngertiin orang lain. Gue belajar lebih banyak mendengar dan mengerti sudut pandang orang lain. Gue belajar untuk menerima dan sekaligus tahu kapan harus menolak dan pergi jauh dari hal-hal yang membuat gue nggak nyaman. Sebagian gue belajar dari masalah-masalah gue, dan sebagiannya lagi gue belajar dari orang-orang di sekitar gue. Mungkin elo termasuk orang yang memberi pengaruh paling besar buat gue. Sudut pandang lo yang dulu nggak bisa gue cerna, sekarang malah jadi bagian dari kepribadian gue.

Dan pada akhirnya, gue memandang apa yang belakangan terjadi sama gue cuma sebagai fase. Yang bisa terjadi sama siapapun, dan gue cuma salah satu obyek yang kebetulan mengalami ini. Sebagian dari diri gue emang masih bertanya-tanya kenapa orang lain bisa dengan teganya memperlakukan gue kayak gini tanpa mikirin dampaknya buat gue. Ini sudut pandang gue yang naïf, karena gue tahu, gue nggak akan pernah bisa memperlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan gue.  Tapi gue belajar untuk nggak menyalahkan mereka, dan gue nggak bisa expect orang lain untuk sama kayak gue.

Marah sih, ya masih. Dan sekarang gue mikir, gue nggak perlu jadi malaikat. Saat mau marah ya marah. Nggak ya nggak. Kalau nggak marah, nggak perlu dibuat-buat sok marah. Dan yang pasti, jangan maksain orang lain untuk ngelakuin sesuatu yang nggak mau mereka lakuin. Apalagi masalah perasaan. Gue nggak akan mau maksa perasaan orang, gue juga sadar gue nggak bisa maksa orang lain harus baik sama gue. Yang penting gue gak jahatin mereka duluan, kalau mereka mau jahat sama gue, ya udah. Itu terserah mereka.

Itu semua termasuk dalam proses gue, gue masih berusaha belajar mengerti banyak hal, dan juga belajar nggak terlalu overthinking (which is susah banget, hahahaha…)

Elia: Saya pendukung kesetaraan gender. Kita tinggal di tengah masyarakat patriarkal, di mana banyak kebijakan dan tata cara lebih menguntungkan laki-laki, di mana banyak kasus yang merugikan perempuan diselesaikan dengan tidak adil dan malah makin menyudutkan perempuan. Bagaimana kamu, sebagai perempuan, melihat hal ini? Apa yang tak ingin kamu lihat terkait persoalan ini pada generasi berikutnya, generasi anak-anakmu kelak? 

Lea: Jujur aja gue nggak suka. Gue hidup dalam lingkungan patriarkal, dari jenis ras dengan budaya yang jelas-jelas patriarkal. Bahkan agama gue pun patriarkal. Dari kecil gue melihat perempuan-perempuan di sekeliling gue, terpaksa tunduk sama ketidakadilan ini. Gue nggak percaya lelaki harus memimpin perempuan, dan perempuan harus menurut sama laki-laki. Gue percayanya gini, laki-laki menjaga perempuan, dan perempuan menjadi sandaran laki-laki, dalam konteks keluarga atau pasangan. Sebenarnya, semakin ke sini, gue lihat kok, makin banyak yang sepandangan sama gue, walau masih minoritas.

Tapi gue juga bukan feminis.

Gue percaya untuk beberapa hal, wanita memang memiliki kewajiban yang nggak bisa dia lepas, maupun kelemahan yang nggak bisa disangkal. Gimanapun, perempuan butuh laki-laki untuk menuntun dan menjaga. Perempuan juga harus bisa merawat rumah dan pasangannya. Bukan karena perempuan itu harus berprofesi sebagai “pelayan”, tapi memang perempuan itu secara hakikat harus “merawat”. Ini bukan masalah kodrat, tapi lebih ke DNA kalo menurut gue. Binatang aja gitu, yang jantan membuat sarang, yang betina menjaga anak-anaknya saat jantan pergi mencari makan. Walau pada binatang lain, yang ada jantan pergi ninggalin betina, dan betina harus menghidupi anaknya sendirian. Tapi pada intinya, perempuan memang sudah nalurinya menjaga dan merawat, mau dilawan gimana juga nggak akan bisa karena itu terjadi secara instingtif.

Yang nggak ingin gue lihat adalah, kalau kelak di generasi anak-anak gue, perempuan masih bermental “nunggu sampe ada yang nikahin”. Kita capek-capek belajar, bekerja, merawat diri, cuma biar ada yang nikahin, dan akhirnya lepas dari kewajiban bekerja. Berharap laki-laki yang mengurus dan membiayai kita. Dengan berpikiran kayak gitu, justru cewek-cewek memberi celah agar cowok menindas mereka, memberi kuasa ke tangan lelaki untuk mengatur hidup mati pasangannya. Bukannya perempuan harus melawan lelaki, tapi perempuan juga harus sadar, nggak semua lelaki itu baik, loh. Shit happens. Randomly. Dan kita harus siap kalau terpaksa harus mandiri.

Selain itu, ya ketidakadilan dalam kasus pelecehan seksual. Itu yang paling gue takut, karena gue lihat sendiri gimana ponakan gue nyaris diperkosa pacarnya sendiri, dan keluarga malah nyalahin ponakan gue. Itu tuh tolol banget. Perempuan mana, sih, yang bakal nyangka pacarnya sendiri tega merkosa dia?

Sekarang, keluarga, yang harusnya membela dia, malah bisa nyalahin dia. Apalagi society? Orang-orang yang nggak kenal dan nggak tahu apa-apa. Mental yang kayak gini, nih, yang bikin posisi perempuan itu pahit. Mudah-mudahan nanti orang-orang makin pinter, nggak tolol lagi kayak kebanyakan orang sekarang.

Elia: Pertanyaan terakhir, untuk apa kamu ada di dunia? Apa kamu percaya hidupmu memiliki tujuan khusus atau secara umum hidup ini tidak berarti? Bagaimana kamu memberi makan eksistensimu? 

Lea: Nah, jujur aja, nih. Gue nggak merasa kalau gue terlahir dengan tujuan tertentu. Gue percaya kalau gue ini lahir randomly. Cuma bagian kecil dari sistem dan kebetulan ada di dalamnya, sudah begini dari sananya.

Gue yang milih tujuan itu sendiri. Gue yang menentukan tujuan itu sendiri. Hidup berarti atau nggak, itu gue yang nentuin. Gue sendiri yang ngasih arti. Bukan universe. Tapi gue nggak merasa perlu memberi makan eksistensi gue. Gue nggak merasa perlu jadi sesuatu yang besar, atau memberi dampak yang besar buat orang lain. Buat gue, yang paling penting itu adalah lingkaran kecil di sekitar gue dan orang-orangnya. Gue nggak peduli dengan 1000 orang acquintances di sekitar gue, karena mereka nggak punya pengaruh apa-apa dalam hidup gue.

Tapi orang-orang ini El; keluarga, teman, orang yang rela gue telpon tengah malem cuma buat nangis-nangis, tukang parkir yang ramah sama gue, tukang nasi uduk yang hapal sama pesenan gue, preman taman suropati yang suka nyapa gue padahal gue gak kenal, orang-orang ini yang penting buat gue. Gue gak butuh menentukan atau memberi makan eksistensi gue untuk mereka. Gue cuma butuh mereka tahu, eksistensi mereka dalam hidup gue itu penting. Dan gimana caranya mereka ngerti itu. Ya susah, sih. Karena gue nggak punya cukup energi untuk baik dan nyediain waktu untuk semua orang. Tapi gue berusaha semampu gue. Karena pada akhirnya yang penting bukan apa efek gue ke orang lain, tapi apa efek orang lain buat gue, dan gimana cara gue menghargai itu.

 

*Photo Courtesy of Maria Leonietha

Advertisements

4 thoughts on “Maria Leonietha: Tentang Kepingan yang Tidak Cocok dan Menjadi Perempuan

  1. Reblogged this on Macangadungan and commented:
    One day, Elia bilang ingin mewawancara orang-orang di sekitarnya karena menurutnya kepribadian dan pemikiran seseorang bisa sangat menarik sekali untuk di-share ke orang lainnya. Saya setuju, sih. Yang saya nggak nyangka, begitu saya jadi “korban” pertama, ternyata pertanyaannya berat-berat. Hahahah…

    Mungkin juga jawaban saya terlalu personal. Malah ada yang bikin saya rada malu dikit. Tapi ya saya emang gini. Saya nggak takut untuk jawab sesuatu dengan apa adanya dan ngebiarin orang lain baca (walau abis itu biasanya isi blog saya dibahas dan diketawain teman2 saya pas lagi nongkrong bareng mereka).

    Selamat membaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s