Kimi: Ketidakberuntungan Tidak Akan Hilang Hanya dengan Mengeluh atau Sedih Sepanjang Waktu

Tidak banyak blog Indonesia yang saya kunjungi secara rutin saat ini. Blog Kimi adalah salah satu dari sedikit blog yang saya baca dan komentari. Selain karena kontennya menarik, saya menyukai cara menulisnya yang teduh. Sesekali dia menulis tentang hal-hal yang pribadi, tapi kemudian dia bisa membahas topik-topik rumit dengan riset yang memadai. Misalnya, dia pernah membahas tentang personality disorder dan kaitannya dengan cara berhubungan dengan lawan jenis. 

Saya sebenarnya sudah mengenal Kimi cukup lama, meski kami jarang bertemu. Jarak barangkali alasannya. Dia tinggal di Lampung, sedangkan saya kerap berpindah. Tapi kira-kira tiga bulan yang lalu, kami bertemu dua kali di Jakarta. Dia membawa sebuah novel karangan Nikolai Gogol. Dia bukan orang yang paling banyak bicara di tengah orang-orang. Sebagai seorang pembaca buku, itu tentu tidak mengherankan—saya sendiri pun begitu. 

Kesan saya tentangnya adalah dia seseorang yang kritis. Saya sering bilang, pendidikan membuat seseorang rumit, tapi tidak berpendidikan membuat hidupmu rumit. Kimi adalah gambaran nyata ‘orang berpendidikan’ di kepala saya. Dengannya saya bisa saja ngobrol semalaman tentang hal-hal yang tak selesai, yang jawabannya mengambang atau belum diketahui. Dia memiliki kadar keingintahuan intelektual dan emosional yang sama dengan—atau mungkin malah lebih daripada—saya. 

Itulah kenapa saya mewawancarainya. Saya ingin mengetahui pandangannya tentang hal-hal yang menurut saya penting. Saya ingin belajar sesuatu darinya dan berharap kamu melakukan yang sama pula. Tentu saja, sebagaimana kamu tak harus menyetujui seluruh pandangan saya, kamu juga tak harus menyetujui seluruh pandangan Kimi. Tapi selalu menyenangkan untuk mendengarkan seseorang berbicara mengenai worldview-nya. Dan, yang lebih penting daripada itu, itu memperkaya kita sebagai manusia. 

Kimi

Elia: Kamu adalah perempuan Lampung. Kamu kuliah di Jakarta, lalu kembali ke kota asalmu, dan tetap sering berkunjung ke Jakarta untuk berbagai alasan, misalnya bertemu teman-temanmu. Seberapa jauh kehidupanmu di Jakarta memengaruhimu? Apa hal-hal yang menjadikanmu dirimu, menjadikan Kimi Kimi? 

Kimi: Kalau banyak orang yang bilang mereka tidak suka Jakarta atau bahkan sudah sampai di tahap benci dengan Jakarta, saya tidak merasakan itu. Saya suka Jakarta. Tapi, kan Jakarta macet dan banjir? Masyarakatnya individualis? Banyak kriminalitas? Memang sih. Meski begitu saya tetap suka Jakarta. Alasannya karena teman-teman saya banyak di Jakarta. Di Jakarta saya tahu saya tidak merasa sendirian. Di Jakarta saya menemukan orang-orang hebat dan saya bisa belajar banyak dari mereka. Tunggulah sampai kamu merasa sendirian, tidak punya teman, dan akhirnya mau tidak mau membuatmu merindukan Jakarta. Sejauh inilah Jakarta memengaruhi saya: Jakarta membuat saya tidak sendirian. Dan perihal apa saja yang menjadikan diri saya adalah saya? Tentunya banyak hal. Pola asuh orangtua, pendidikan, pengalaman hidup diri sendiri dan pengalaman hidup orang lain (saya juga belajar dari pengalaman orang lain), buku-buku yang saya baca, film yang saya tonton, musik yang saya dengar, makanan yang saya makan, countless self-dialogue yang saya lakukan, dan mungkin masih banyak hal yang saya lewatkan. Inilah yang membentuk diri saya.

Elia:  Latar belakang pendidikanmu adalah psikologi. Ketika bertemu denganmu beberapa waktu yang lalu, saya bisa melihat kamu adalah orang yang kritis, kerap mempertanyakan hal-hal, tidak menelan sesuatu mentah-mentah. Menurutmu, apakah kehidupan ini, termasuk masalah-masalah di dalamnya, bisa dijelaskan secara rasional dan ilmiah atau rasio manusia memiliki batas? Jika yang pertama, apa yang membuatmu begitu yakin? Jika yang kedua, batas-batas seperti apa yang tak dapat dilampaui rasio? 

Kimi: Saya percaya ada hal-hal yang tidak dapat–atau mungkin lebih tepat dengan belum dapat–dijelaskan secara rasional. Hal-hal seperti kehidupan sebelum lahir (apa yang terjadi pada fetus ketika dalam kandungan, apa yang mereka rasakan), apa yang terjadi setelah kematian (kalau ternyata tidak ada kehidupan setelah kematian, ya syukurlah; kalau ternyata ada, seperti apa kehidupan itu), dan tentang the Greater Being atau Tuhan bagi kebanyakan orang menyebutnya.

Elia: Kamu pernah berkata, di lingkunganmu di Lampung, karena sifat kritismu, kamu termasuk orang yang dianggap aneh. Itu adalah sesuatu yang juga saya alami. Orang-orang konservatif menganggap saya ‘keluar dari jalur’. Bagaimana kamu merespons hal itu? Apa kamu merasakan tekanan? Apa kamu tetap berpegang pada pendirianmu atau mencoba sedikit-banyak menyesuaikan diri? 

Kimi: Tekanan pasti saya rasakan. Saya tidak bisa dengan bebas mengekspresikan diri saya dan pemikiran-pemikiran saya. Dan itu rasanya seperti terpenjara. Saya tidak bebas. Ada masanya saya ingin memberontak, tetapi lama-kelamaan saya mencoba untuk kompromi. Menjadi berbeda sendiri di tengah-tengah lingkungan yang seragam tentu sulit. Saya mencoba menyiasati itu. Saya biarkan saja mereka seperti mereka apa adanya yang tidak bisa menerima perbedaan. Sementara saya tetap mencari lingkungan baru dan teman-teman baru yang bisa menerima saya apa adanya. Namun, secara perlahan-lahan saya akan menunjukkan diri saya sebenarnya di lingkungan saya. Saya yakin kok suatu saat nanti lingkungan saya akan bisa menerima saya. Mungkin awalnya saya akan dicibir, tapi toh hidup mereka tidak akan selamanya dihabiskan dengan mencibir saya kan? 😛

Elia: Saya tahu kamu baru saja melalui masa sulit, yang membuatmu mesti terus-menerus menguatkan diri. Pertanyaan saya sederhana saja: bagaimana kamu melihat dan menyikapi ketidakberuntungan dalam hidup? 

Kimi: Saya melihat ketidakberuntungan dalam hidup sebagai suatu hal yang akan dialami semua individu. Shit happens. Manusia tidak akan mungkin sepanjang hidupnya selalu mengalami hal-hal yang bahagia. Pasti ada di satu titik dalam hidupnya dia merasa dia berada dalam titik terendah. Kehidupan ini seperti roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, kadang kita berada di bawah. Now, I am at the lowest point of my life. Saya menyikapinya dengan mencoba berdamai dengan keadaan. Tidak mudah memang, tetapi itu harus dilakukan. Ketidakberuntungan itu tidak akan hilang hanya dengan mengeluh atau sedih sepanjang waktu. Nasib kita tidak akan berubah kalau kita hanya meratapi keadaan. I try to embrace everything that comes to my life, including misfortunes. Kalau tadi saya bilang manusia tidak akan mungkin selalu mengalami hal-hal yang bahagia, itu berlaku pula untuk kebalikannya. Manusia tidak mungkin sepanjang hidupnya selalu mengalami hal-hal yang pahit. Yang terpenting adalah kita percaya akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagiaan setelah kesusahan. Sekarang tergantung dari kitanya saja mau mencari kebahagiaan atau tidak. Seandainya kebahagiaan sudah dicari, tetapi tidak ketemu juga, ya sudah. Make your own happiness. Create it.

Elia: Terakhir, untuk apa kamu ada di dunia? Apa kamu percaya hidupmu memiliki tujuan khusus atau secara umum hidup ini tidak berarti? 

Kimi: Saya lahir ke dunia karena orangtua saya berhubungan seks, lalu ibu saya hamil dan melahirkan saya deh. Saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Bahkan, saya pernah berpikir, seandainya saya tahu saya akan hidup di dunia yang sekacau ini, ada baiknya saya tidak usah dilahirkan. Fine, I admit, I am just being bitter. 😛 Untuk apa saya di dunia? Ehm… Mungkin hanya untuk menambah populasi penduduk Bumi. Kemudian saya ikut serta dalam pengrusakan Bumi. Okay, I’m being bitter again. Mulai serius ya. Jadi begini, saya percaya setiap manusia punya peran masing-masing dalam hidup. Setiap dari kita memainkan peran di panggung yang bernama Dunia ini, entah peran yang kecil atau peran yang besar. Jadi, saya percaya hidup saya punya tujuan. Minimal tujuan hidup saya adalah menjalani hidup saya sebaik mungkin. Hidup ini cuma satu kali. Terlalu sayang untuk disia-siakan dan dihabiskan begitu saja tanpa arti. Dalam hidup ini saya selalu mencari jawaban dari pertanyaan, “What do I need to do with my life?” Apa yang harus saya lakukan agar hidup saya bisa bermakna? Dan saya sedang dalam proses menuju ke sana.

 

*Photo Courtesy of Kimi

Advertisements

4 thoughts on “Kimi: Ketidakberuntungan Tidak Akan Hilang Hanya dengan Mengeluh atau Sedih Sepanjang Waktu

  1. Terima kasih sangat atas wawancaranya, El. Interview lo ini sebenarnya termasuk salah satu cara bagi gue untuk lebih mengenal diri sendiri, yang ternyata… Gue belum mengenal diri gue sebaik yang gue kira. Once again, thank you. I’m really honoured. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s