Hilang di Sumba (Pengantar)

Saya bilang begini pada entri ini:

Saya ingin mengenal sebanyak-banyaknya orang yang berbeda dari saya, baik dalam hal kota asal, latar belakang budaya dan pendidikan, worldview, maupun sikap. Saya ingin memahami mimpi-mimpi, desire, dan hal-hal yang menggerakkan orang-orang yang tak sefrekuensi dengan saya.

Saya hanya terlalu jatuh cinta dengan hidup ini.

Jika ia seorang perempuan, saya akan berusaha membuatnya tersenyum tiap hari.

Dua minggu kemudian, saya mendapat pengalaman luar biasa terkait hal itu.

Saya pergi ke Sumba.

 

Sumba adalah pulau yang sunyi. Luasnya 11.153 kilometer persegi. Jumlah penduduknya 685.186 (berdasarkan sensus tahun 2010). Bandingkan dengan Bali. Luasnya hanya 5.780 kilometer persegi, penduduknya 4.225.000.

Datang ke Sumba seperti memasuki alam liar. Into the wild. Jika di Pulau Jawa kota-kota dan desa-desa seperti mengepung hutan, di Sumba justru sebaliknya: hutan mengepung kota dan desa.

Jangan bayangkan kota di sana seperti Jakarta, Yogyakarta, atau Denpasar. Kota di sana masih jauh tertinggal, belum dikembangkan dengan baik. Di banyak area tidak ada lampu jalan, sehingga suasana gelap gulita pada malam hari. Salah satu sumber uang terbesar adalah jika kamu bekerja di SPBU Pertamina. Tak ada kafe yang menyajikan berbagai jenis kopi dan memutar musik jazz. Tak ada bar dengan band-band blues. Tak ada klub malam yang ingar dan memuntahkan para pemabuk.

Tapi di situlah keistimewaannya.

Segalanya begitu murni hingga tahap yang dapat mengubah perspektifmu.

Yang lebih istimewa lagi, Sumba adalah satu-satunya tempat di dunia di mana penguburan megalithic (batu besar) masih menjadi tradisi kuat yang dijalankan dengan hati oleh masyarakatnya. Hal itu telah menarik minat para akademisi dari seluruh dunia sejak lama. Contoh kecil, di sana saya menjalin pertemanan dengan Suzanne Villeneuve, seorang akademisi dari Simon Fraser University di Canada, yang mengunjungi Sumba untuk ketiga kalinya dalam rangka penelitian. Tahun depan, katanya, dia akan mengurus pendanaan untuk kelanjutan risetnya dan tinggal selama dua-tiga bulan.

1

 

Kepergian saya ke Sumba berawal dari sebuah kebetulan. Kedua eyang saya dari Australia, Tuti Gunawan dan David Mitchell, sedang berada di Bali dan mengundang saya ke hotel mereka di Ubud. Saya singgah di sana. Lalu kami pergi makan malam di sebuah restoran India dan nonton Festival Seni dan Budaya Desa tak jauh dari situ.

Pada satu titik dalam percakapan kami selama sekitar dua-tiga jam, mereka bilang mereka mau pergi ke Sumba dan mengajak saya. Saya menyanggupi. Kenapa tidak?

Eyang David bukan orang asing di pulau itu. Dia adalah Kepala Dinas Kesehatan pertama di sana. Bersama Eyang Tuti, dia pertama kali menginjakkan kaki di Sumba tahun 1969 dan mengobati orang-orang sakit.

Eyang Tuti sendiri adalah seorang antropolog. Banyak tulisannya berbicara seputar Sumba. Tesisnya, Hierarchy and Balance: A Study of Wanokaka Social Organization, dibukukan dan menjadi sumbangan berarti dalam dunia antropologi.

Datang ke Sumba bersama mereka dan diperkenalkan sebagai cucu mereka, saya seperti menggunakan jalur khusus. Penerimaan yang saya dapatkan begitu baik dan hangat. Eyang Tuti dan Eyang David memang sudah lama diangkat secara adat sebagai angua (saudara) dari Pak Kris, sehingga saya otomatis menjadi cucu Pak Kris—saya memanggilnya ‘opa’ sekarang.

Dalam waktu begitu singkat, saya pun dianggap dan diperlakukan sebagai keluarga. Hebatnya, semuanya terasa amat murni dan tulus—itu sesuatu yang orang Jawa masa kini, yang budayanya secara umum telah luntur karena terpaan westernisasi, tak bisa bayangkan.

Berkali-kali bepergian bersama orang-orang asing ke berbagai pulau di Indonesia, saya berani berkata bahwa orang Jawa adalah yang paling gila duit dan berorientasi materi. Itu bisa dipahami—juga tidak salah—karena Pulau Jawa padat penduduknya dan keras persaingannya. Efeknya, kekeluargaan menjadi atribut saja, basa-basi, tak lagi memiliki kadar kemurnian dan ketulusan.

Sumba adalah kebalikan dari Jawa.

Setidaknya itulah yang saya rasakan selama di sana.

Di sana saya memperoleh pengalaman-pengalaman hebat yang membuat saya berpikir ulang tentang human nature, tanggung jawab sosial, dan masih banyak lagi. Saya akan membahas semua itu pada entri-entri saya berikutnya.

Advertisements

3 thoughts on “Hilang di Sumba (Pengantar)

  1. membaca ini, aku kembali sedikit menyesal kemarin tak jadi mengambil jurusan antropologi, nantilah kalau sudah menyelesaikan yg ini mungkin bisa sekolah lagi ahaha ngarang. Yang jelas dekat dengan keseharian orang-orang yang tak pernah dijumpai dalam keadaan biasa, itu sangat menarik dan bagus untuk diri, terutama sudut pandang. makanya aku masih penasaran ingin ke kampung naga, baduy dalam dan ke alam suku mentawai, nanti suatu saat 😀

  2. Terima kasih kak, sudah sempat mampir ke blog saya. Saya sempatkan mampir balik nih sekarang dan nggak nyangka bisa betah baca-baca, terutama tulisan yg ini. Ah, beri daku Sumba- kalau kata Taufiq Ismail. Tfs!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s