Hilang di Sumba (Bagian Ketiga)

Dalam ceramahnya pada suatu upacara podu, seorang rato berkata bahwa pemerintah daerah pilih kasih. Mereka mengalokasikan dana untuk membantu acara-acara keagamaan umat Kristen dan Katolik, tapi tidak untuk Marapu. Justru umat Katolik-lah yang kerap membantu, dan dia berterima kasih untuk itu. Dia berkata, dia tahu bahwa setidaknya tujuh puluh persen orang Sumba adalah pemeluk Marapu.… Continue reading Hilang di Sumba (Bagian Ketiga)

Hilang di Sumba (Bagian Kedua)

Alasan utama Eyang Tuti dan Eyang David mengajak saya ke Sumba adalah mereka ingin saya menyaksikan Upacara Podu. Mereka tidak memberi saya banyak penjelasan tentang itu; mereka hanya bilang, itu berkaitan dengan agama tradisional Sumba, yaitu Marapu. Saya menyanggupi. Kenapa tidak? Begitu tiba di Sumba, setelah mendarat di Bandara Tambolaka dan tinggal di rumah Opa… Continue reading Hilang di Sumba (Bagian Kedua)

Hilang di Sumba (Bagian Pertama)

Saya ingin bercerita tentang proses penamaan dan kebiasaan minum orang Sumba pada entri ini. Tentu saja pengetahuan saya tentang kedua hal itu lebih banyak didapat di jalanan, hasil nongkrong di sana-sini, jadi tidak sedetail dan selengkap, katakanlah, buku-buku antropologi. Di Sumba, untuk alasan yang lupa saya tanyakan, umumnya orang memiliki dua nama—nama resmi dan nama… Continue reading Hilang di Sumba (Bagian Pertama)

Hilang di Sumba (Pengantar)

Saya bilang begini pada entri ini: Saya ingin mengenal sebanyak-banyaknya orang yang berbeda dari saya, baik dalam hal kota asal, latar belakang budaya dan pendidikan, worldview, maupun sikap. Saya ingin memahami mimpi-mimpi, desire, dan hal-hal yang menggerakkan orang-orang yang tak sefrekuensi dengan saya. Saya hanya terlalu jatuh cinta dengan hidup ini. Jika ia seorang perempuan,… Continue reading Hilang di Sumba (Pengantar)